Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Tabungan Akhirat dengan Berikan Kebahagiaan Lansia Pejuang Nafkah

Tabungan Akhirat dengan Berikan Kebahagiaan Lansia Pejuang Nafkah

Rp 0Terkumpul dari Rp 50.000.000
120 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

  “Orang-orang yang memelihara anak yatim dan janda/orang miskin, maka mereka seperti orang yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari & Muslim)


  Usia 71 Tahun Sebatang Kara: Berjalan dari Kampung ke Kampung dalam Sepi Di usia senjanya yang telah menginjak 71 tahun—sebuah masa yang seharusnya diisi dengan istirahat tenang dan kehangatan pelukan keluarga—Nenek Ikah justru harus menelan pahitnya kenyataan hidup. Beliau menjalani sisa usianya sepenuhnya seorang diri, tanpa pendamping hidup, tanpa anak cucu di sisi, hanya ditemani oleh sunyi yang teramat panjang dan menyayat hati.


  Dengan kondisi tubuh yang kian hari kian renta dan membungkuk, Nenek Ikah menolak untuk menyerah pada nasib. Setiap hari, ia tetap memaksakan kakinya yang mulai gemetar untuk melangkah, menyusuri jalanan dari kampung ke kampung demi menjajakan gorengan. Gorengan tersebut bahkan bukan modal miliknya sendiri, melainkan titipan milik tetangganya. Langkahnya pelan, sering kali ia terpaksa berhenti di pinggir jalan hanya untuk menghela napas dan menahan rasa lelah yang teramat sangat di sekujur tubuhnya.


  Upah 15 Ribu Sehari dan Rumah 2x3 Meter yang Nyaris Roboh Peluh keringat yang dikeluarkan Nenek Ikah dari fajar hingga petang nyatanya hanya dihargai teramat murah. Jika semua dagangannya habis tak tersisa, ia hanya mampu membawa pulang keuntungan sekitar 15 ribu rupiah saja sehari. Namun, jalanan sering kali tidak berpihak padanya. Tak jarang Nenek Ikah harus berjalan pulang dengan sisa gorengan yang tidak laku, menahan lapar, dengan hati yang ikut terasa hampa dan cemas memikirkan hari esok.


  Kesedihan Nenek Ikah kian memuncak saat melihat tempat yang ia sebut sebagai rumah. Beliau tinggal di sebuah gubuk kecil yang kondisinya sangat mengenaskan dan nyaris roboh. Ukurannya hanya berkisar 2,5 x 3 meter, berdiri menumpang di atas tanah milik orang lain. Dinding gubuknya sudah rapuh, atapnya bocor seadanya, dan setiap sudut ruangan menyimpan kekhawatiran yang besar—akankah gubuk ini masih sanggup berdiri tegap esok hari, ataukah akan roboh menimpa tubuh rentanya saat ia tertidur?


  Di dalam rumah sekecil itu, tidak ada suara televisi, tidak ada tawa anak cucu, dan tidak ada teman untuk berbagi cerita. Hanya ada kesunyian malam yang setia menemani tidurnya yang dingin. Ia benar-benar menjalani hidup sebatang kara, tanpa tempat bersandar manusiawi.


Rasulullah ﷺ bersabda:

  “Barangsiapa yang meringankan beban orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)


  Hari Ini, Kita Bisa Menjadi Alasan Nenek Ikah Tersenyum Kembali Di balik segala keterbatasan, ketakutan, dan rasa sepi yang mendalam, Nenek Ikah tetap bertahan memelihara harga dirinya tanpa mau mengemis. Hari ini, Allah mengetuk pintu hati kita untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya. Kita bisa menjadi alasan bagi Nenek Ikah untuk kembali merasakan hangatnya kepedulian sesama manusia sebelum sisa usianya habis.


  #TemanBaik, mari kita kumpulkan pahala terbaik kita untuk memuliakan masa tua Nenek Ikah.



Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id