Selamatkan Hati Kecil Inara
Sejak pertama kali membuka mata ke dunia, tubuh kecil Inara sudah harus berjuang melawan penyakit yang bahkan sulit diucapkan oleh orang dewasa: chirrosis hepatis et causa atresia bilier post kasai.
Sebuah kondisi serius di mana hati Inara mengalami sirosis (kerusakan hati permanen) akibat atresia bilier, yaitu kelainan bawaan yang membuat saluran empedu tidak terbentuk dengan sempurna. Padahal, empedu sangat penting untuk membuang racun dari tubuh.
Meski Inara sudah menjalani operasi Kasai di usia 6 bulan—sebuah tindakan untuk membuat jalur baru bagi empedu—namun kerusakan hatinya tetap berlanjut. Kini satu-satunya harapan adalah transplantasi hati.
Artinya… sejak bayi, tubuh kecil Inara hidup dalam kondisi yang terus memburuk, dan harus berjuang setiap hari tanpa henti.
Padahal… usia Inara baru menginjak 2 tahun.
Namun hampir seluruh hidupnya dihabiskan di ruang rumah sakit.
Entah sudah berapa kali jarum suntik menembus kulitnya.
Entah sudah berapa banyak selang medis yang menempel di tubuh mungilnya—infus, oksigen, alat bantu hidup lainnya.
Bagi anak seusianya, dunia seharusnya tentang bermain dan tertawa.
Tapi bagi Inara… dunia adalah ruang perawatan dan rasa sakit yang tak kunjung usai.
Penyakit ini bukan sekadar menyakitkan—ia mematikan jika tidak ditangani dengan tepat.
Tanpa pengobatan rutin dan transplantasi hati:
- Racun akan terus menumpuk di dalam tubuhnya
- Hati akan semakin rusak hingga tidak bisa berfungsi sama sekali
- Pernafasan bisa tiba-tiba tersendat
- Perdarahan hebat bisa terjadi kapan saja
- Bahkan… nyawanya bisa terancam kapan pun
Dan itu bukan sekadar kemungkinan. Itu sudah pernah hampir merenggut Inara.
“Anak saya… sempat dinyatakan meninggal selama 48 menit setelah operasi…”
lirih Bu Lina, suaranya bergetar menahan tangis.
“...tapi Qodarullah, anak saya kuat… dia kembali lagi ke saya…”
Namun perjuangan itu belum selesai.
Karena keterbatasan biaya, Inara tidak boleh absen kontrol setiap minggu.
Sekali saja terlewat… akibatnya bisa fatal.
Dan itu pernah terjadi. Pernafasan Inara tiba-tiba tersendat hebat. Tubuhnya melemah.
Ayah dan ibu panik, tak tahu harus berbuat apa selain menangis dan berdoa.
“Habisnya kami bingung…”
ucap Bu Lina dengan suara tercekat.
“Bapaknya Inara cuma ojol… penghasilan sehari-hari bahkan hanya cukup untuk makan. Kami ngontrak 350 ribu per bulan…”
Dengan penuh pengorbanan, mereka menjual motor, TV, bahkan lemari es.
Semua demi membeli susu khusus dan obat-obatan Inara yang tidak sepenuhnya ditanggung BPJS.
Kini… hutang pun menumpuk. “Kadang kami harus menunda pengobatan…”
suara ibu mulai pecah. “Bukan karena kami tega… tapi kami benar-benar tidak punya…”
Pak Heru kini tetap bekerja sebagai ojol, menggunakan motor pinjaman dari adiknya… hanya agar dapur tetap mengepul dan Inara tetap bertahan.
Namun cobaan tidak berhenti di situ.
“Sakit hati… cacian itu sudah biasa…”
tangis Bu Lina akhirnya pecah. “Anak saya… dibilang anak monyet… dijauhi… bahkan orang tua lain melarang anaknya mendekati Inara karena takut menular…”
Padahal… Inara hanya seorang anak kecil yang ingin sembuh. Pernah suatu malam, tubuh kecil Inara terbujur lemah di kasur. Wajahnya berlumuran darah.
Saat itu… dunia seakan berhenti bagi kedua orang tuanya. Ketakutan terbesar mereka—kehilangan Inara—terasa begitu dekat.
Setiap tangisan Inara karena gatal dan rasa sakit…
hanya bisa dibalas dengan usapan lembut dari ibu dan ayahnya.
“Ya Allah… kalau bisa… ambil saja sakitnya, jangan anak saya…”
bisik sang ibu dalam doa yang tak pernah putus.
Kini harapan itu masih ada.
Namun waktu tidak berpihak.
Tanpa penanganan yang cepat dan tepat… kondisi Inara bisa semakin memburuk, bahkan berujung pada kegagalan organ yang tidak bisa diselamatkan lagi.
Di usia yang seharusnya penuh tawa…
Inara justru sedang berjuang untuk tetap hidup.
Dan di balik tubuh kecil itu…
ada doa-doa besar dari orang tua yang tak pernah menyerah.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
