Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Tanpa Anus, Tanpa Kaki. Bantu Sihabudin Berjuang Sembuh

Tanpa Anus, Tanpa Kaki. Bantu Sihabudin Berjuang Sembuh

Rp 89.572.189Terkumpul dari Rp 150.000.000
36 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

  Sejak pertama kali membuka mata di dunia ini, M. Sihabudin (1) sudah harus bertarung demi hidupnya. Lahir lewat usia kandungan normal, tangisan pertamanya tak pernah terdengar. Dokter langsung membawanya ke ruang perawatan, dan selama 25 hari sihabudin bertahan di rumah sakit sambil menerima vonis yang mematahkan hati kedua orangtuanya.


  Dokter mendiagnosa Sihabudin menderita penyakit “Malformasi Anorektal Fistula Rectovesica”. Yaitu cacat lahir di mana lubang anus sempit, tertutup kulit, atau tidak ada. Bayi dapat mengalami obstruksi usus.

  Organ sebagian tubuhnya sebelah kiri seperti tangan kiri, paru sebelah kiri dan ginjal sebelah kirinya tak berkembang sempurna, membuat kondisi nya semakin memprihatinkan. Tak jarang karena kondisi tersebut membuat napasnya sesak hingga tulang dadanya cekung masuk ke dalam. Ditambah adanya gizi buruk, berat badannya kini hanya dibawah rata2 di usianya 2 tahun.

  Lebih menyayat lagi, sihabudin terlahir tanpa anus dan tanpa kaki serta tulang punggung nya bengkok. Di usianya 1 tahun ini, seharusnya ia sudah bisa belajar untuk berjalan, namun kondisinya berbeda dari anak seusianya pada umumnya..

  Karena terlahir tanpa anus, sihabudin harus menggunakan kantong kolostomi di perutnya sebagai kantong pencernaannya.


  Pak Sutiandi, yang setiap hari berada di sisinya. Dokter bilang, Sihabudin harus segera menjalani perawatan intensif dan operasi, kalau tidak nyawanya bisa terancam setiap saat. 

  Namun, bagaimana mungkin keluarga kecil ini menanggung semua? Ayahnya, Pak Sutiandi, hanya seorang penjual es potong keliling dengan penghasilan tak menentu—paling besar 50 ribu sehari, itu pun tak selalu laku. Susu khusus Sihabudin yang harganya Rp400 ribu hanya cukup 1 minggu pun sudah lama tak terbeli serta kantong kolostomi yang harus setiap minggu diganti dan harganya pun tidak murah.


  Di rumah, Sihabudin tak punya oksigen. Setiap kali sesak datang, wajah mungilnya memerah, dadanya cekung bolong menahan udara yang sulit masuk ke paru-paru kecilnya. Saking rindunya membayangkan Sihabudin sehat, Pak Sutiandi pernah membuat foto editan anaknya dengan tubuh sehat, bugar dan wajah ceria. Foto itu ia simpan, sebagai doa—bahwa suatu hari nanti, Sihabudin benar-benar akan seperti di gambar itu.

  #TemanBaik, kini, perjuangan Sihabudin dan keluarga kini sudah terlalu berat untuk mereka jalani sendiri. Setiap bantuan darimu adalah napas tambahan, harapan baru, dan kesempatan untuk Sihabudin tumbuh tanpa rasa sakit yang mencekik. 


Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id