Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Bakti Anak Tunarungu untuk Sang Ibu yang Sakit

Bakti Anak Tunarungu untuk Sang Ibu yang Sakit

Rp 3.165.000Terkumpul dari Rp 50.000.000
80 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

  “Barangsiapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat.” (HR. Muslim)


  Merajut Retak Takdir: Berjuang Melawan Kerasnya Jalanan dalam Kesunyian Bagi Sri (28 tahun), dunia adalah sebuah ruang sunyi tanpa akhir. Kedua telinganya tak mampu mendengar bisingnya klakson jalanan, dan bibirnya terkunci rapat dari kata-kata. Namun, di tengah keterbatasan sebagai seorang tunarungu dan tunawicara, tubuh ringkihnya dipaksa untuk terus bicara oleh keadaan.


  Setiap hari, di bawah terik matahari yang membakar kulit, Sri berjalan kaki menyusuri jalanan untuk menjajakan gorengan. Pilunya, dagangan tersebut bahkan bukan miliknya sendiri. Sri hanya seorang buruh asongan yang menggantungkan hidup pada belas kasihan pemilik warung. Dari keringat yang bercucuran seharian, keuntungan yang ia bawa pulang hanyalah recehan upah berkisar 20 ribu hingga 25 ribu rupiah saja per hari—itu pun jika semua dagangan habis tersisa setelah dipotong setoran. Jika sepi, ia harus pulang dengan tangan hampa.


  Air Mata Tanpa Suara di Samping Pembaringan Sang Ibu Sepulang berjualan, langkah kaki Sri selalu terburu-buru. Di sebuah rumah sederhana, sang ibu tercinta tengah terbaring lemah didera sakit sakitan. Di samping tubuh ringkih ibundanya, pertahanan Sri runtuh. Air matanya luruh dalam keheningan tanpa suara.


  Sambil mendekap erat tubuh sang ibu, Sri dengan telaten menyuapi dan mengurus segala keperluannya. Ia hanya bisa berbicara lewat isyarat jemari yang gemetar, mencoba meyakinkan sang ibu bahwa semua akan baik-baik saja. Sri tidak bisa mengeluh kepada tetangga, ia tidak bisa berteriak meminta tolong pada dunia yang asing baginya. Di dalam dada Sri, hanya ada satu doa yang bergaung teramat keras kepada Sang Pencipta: kesembuhan sang ibu, satu-satunya alasan yang membuat gadis sunyi ini tetap bertahan menantang badai hidup.


Rasulullah ﷺ bersabda:

  “Barangsiapa yang meringankan beban orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)


  Menelan Ludah di Balik Rasa Iri yang Getir Sebagai gadis muda berusia 28 tahun, Sri kerap kali merasakan gejolak batin yang menyiksa. Saat melihat teman-teman sebayanya berkumpul, tertawa, dan asyik memegang handphone, Sri hanya bisa berdiri di kejauhan. Baginya, gawai di tangan orang lain tampak seperti kunci ajaib menuju dunia luar yang begitu seru—dunia penuh suara yang tidak pernah bisa ia masuki. Sri hanya bisa menatap, menelan ludah, dan memeluk dadanya yang terasa makin sempit oleh rasa iri yang getir. Ia kembali tersadar, ia harus kembali memikul nampan gorengan demi obat sang ibu.


  #TemanBaik, mari kita kumpulkan pahala terbaik kita untuk memuliakan perjuangan sunyi Sri.



Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id