Facebook Pixel
Langsung ke konten
Foto campaign Muliakan Perjuangan Ayah Hebat yang Berjuang Demi Keluarga

Muliakan Perjuangan Ayah Hebat yang Berjuang Demi Keluarga

Rp 30.000Terkumpul dari Rp 50.000.000
115 Hari
0Donasi
0Kabar Terbaru
0Doa
Info Campaign

  “Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud)


  Keteguhan Hati Sang Ayah: Menerjang Keterbatasan Fisik Sejak Lahir Di usianya yang sudah menginjak setengah abad, Pak Entis (50 tahun) membuktikan kepada dunia apa arti sejati dari sebuah tanggung jawab seorang kepala keluarga. Lahir dengan kondisi fisik yang kurang sempurna akibat penyakit polio, kaki kiri Pak Entis tumbuh kecil dan tidak bisa digerakkan dengan semestinya. Langkah kakinya pincang dan goyah.


  Namun, keterbatasan itu tidak pernah ia jadikan alasan untuk menadahkan tangan meminta belas kasihan. Di dalam hatinya, ada senyum istri dan anak-anaknya yang harus terus ia perjuangkan. Pak Entis adalah potret Ayah Hebat yang menolak menyerah pada takdir yang digariskan di tubuhnya.


  Berjalan 12 Kilometer, Menahan Sesak Dada Demi Upah 5 Ribu Rupiah Setiap hari, dengan kaki kirinya yang layu, Pak Entis memaksakan diri menyeret langkahnya berjalan kaki sejauh 12 kilometer. Di bawah sengatan terik matahari dan kepulan debu jalanan, ia memikul tumpukan celana titipan orang lain untuk dijajakan keliling. Pak Entis hanya mengambil upah yang teramat minim, yaitu 5 ribu rupiah dari setiap celana yang berhasil ia jual.


  Belakangan ini, jalanan terasa kian kejam bagi Pak Entis. Dagangannya sepi peminat. Dalam sehari, ia sering kali hanya membawa pulang keuntungan bersih berkisar 10 ribu hingga 20 ribu rupiah saja. Di tengah perjalanan panjangnya, tak jarang dada Pak Entis terasa sesak dan tubuh senjanya didera kelelahan yang luar biasa. Namun, setiap kali rasa ingin menyerah itu datang, bayangan wajah anak balitanya di rumah seketika menjadi obat penawar lelah yang memaksanya untuk kembali melangkah.


Rasulullah ﷺ bersabda:

  “Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah... dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (HR. Muslim)


  Jeritan Pilu di Rumah: Makan Nasi Garam dan Menunggak SPP Sekolah Pendapatan yang teramat minim dan tidak menentu itu membawa dampak memilukan bagi keluarganya. Jangan bayangkan ada lauk bergizi di atas piring; Pak Entis, istri, dan anak-anaknya sudah terbiasa bertahan hidup dengan hanya makan nasi putih ditaburi garam saja.


  Beban pikiran Pak Entis kian bertumpuk saat memikirkan masa depan pendidikan anak-anaknya yang masih duduk di bangku SMP dan SMA. Saat ini, uang SPP sekolah anaknya sudah menunggak selama 2 bulan karena tak ada biaya. Bahkan yang lebih menyedihkan, tak jarang anak-anaknya terpaksa tidak bisa berangkat ke sekolah sama sekali, hanya karena Pak Entis tidak mampu mengantongi uang sepeser pun untuk ongkos jajan atau transportasi mereka.


  Impian Sederhana: Membuka Usaha Menjahit di Rumah Pak Entis tidak ingin selamanya merayap di jalanan dengan kaki polionya yang sakit. Beliau memiliki keahlian dan mimpi yang sangat mulia. Jika memiliki modal yang cukup, Pak Entis ingin sekali membuka usaha menjahit serta memproduksi celana dan baju sendiri di rumah. Dengan memiliki mesin jahit dan modal kain, beliau bisa mencari nafkah dengan lebih layak tanpa harus menyiksa fisiknya berjalan belasan kilometer, sekaligus memberikan kesejahteraan dan pendidikan yang pasti untuk anak-anaknya.


  #TemanBaik, mari kita kumpulkan pahala terbaik kita untuk memuliakan pundak tangguh Pak Entis.



Home
Raihmimpi

Platform Donasi Online Terpercaya

Hubungi kami

© 2026 Raihmimpi.id