Temani Langkah Anak Tangguh Pejuang Nafkah

“Aku dan orang yang menanggung anak yatim/anak yang telantar kedudukannya di surga seperti ini,” kemudian beliau ﷺ mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Bukhari)
Tumbuh Tanpa Dekapan Ayah, Terpisah Jarak dengan Ibu Di usianya yang baru menginjak 10 tahun—usia di mana seorang anak seharusnya bermanja di pelukan orang tua dan fokus belajar—Obi harus menelan getirnya garis takdir. Sejak masih bayi, Obi telah ditinggalkan oleh sang ayah. Ia tumbuh besar tanpa pernah merasakan bagaimana rasanya dilindungi dan dinafkahi oleh sosok cinta pertama seorang anak.
Kini, Obi tinggal bersama ibunya. Namun, kemiskinan yang menjerat memaksa sang ibu untuk merantau jauh ke luar kota, bekerja menjadi Asisten Rumah Tangga (ART) demi menyambung hidup. Karena jarak yang membentang dan biaya transportasi yang mahal, sang ibu sangat jarang bisa pulang. Di dalam petak rumah kontrakan yang sepi, bocah sekecil Obi terpaksa harus berjuang tegak berdiri memeluk kesendirian dan mengurus kebutuhan sehari-harinya sendirian.
Menjinjing Sayur Milik Orang Lain demi Sesuap Nasi Kedewasaan Obi lahir prematur karena himpitan keadaan. Sadar bahwa kiriman ibunya jauh dari kata cukup, Obi tidak mau berpangku tangan atau menangis meratapi nasib. Untuk bertahan hidup dan mengisi perutnya yang lapar, bocah sekecil ini memilih menjadi buruh penjual sayuran keliling.
Obi tidak memiliki modal. Ia hanya mengambil sayuran milik orang lain untuk dijajakan, lalu mengandalkan sedikit keuntungan atau upah dari setiap ikat sayur yang berhasil dijual. Dari rupiah-rupiah kecil hasil keringatnya itulah, Obi berjalan kaki menyusuri jalanan, menghitung uang koin demi koin agar esok hari ia masih bisa membeli makan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang meringankan beban orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)
Bayang-Bayang Diusir dari Kontrakan yang Sering Menunggak Kehidupan Obi dan ibunya jauh dari kata cukup, bahkan bisa dibilang sangat memprihatinkan. Penghasilan Obi yang terbatas dari jualan sayur ditambah upah ibunya sebagai ART di luar kota sering kali tidak mampu menutup biaya sewa tempat beralang mereka. Akibatnya, uang kontrakan rumah mereka sering kali menunggak dan tidak bisa dibayar tepat waktu. Ada kecemasan besar di mata polos Obi setiap kali pemilik kontrakan datang menagih, takut jika sewaktu-waktu ia harus kehilangan tempat bernaung satu-satunya.
Meskipun hidup dalam lingkaran keterbatasan yang luar biasa, Obi tidak pernah mengeluh. Ia tumbuh menjadi anak yang sangat mandiri, pekerja keras, dan jujur di tengah kemiskinan yang mendera keluarga kecilnya.

Platform Donasi Online Terpercaya
Hubungi kami
© 2026 Raihmimpi.id
